Program ID

Sebagai bagian dari GPPK yang diberi mandat untuk melakukan revitalisasi Budaya Dayak melalui penelitian dan kajian, ID berusaha mengimplementasikan program dan aktivitasnya berdasarkan pandangan-pandangan yang mendasar. Beberapa aktivitas program sebagai bentuk respons terhadap persoalan Kebudayaan Dayak yang telah dan sedang berlangsung, adalah penelitian tradisi lisan Dayak, fasilitasi pengajaran muatan lokal, penelitian etnolinguistik, penelitian keberagaman hayati, penerbitan dan publikasi jurnal dan majalah Kalimantan Review, inisiasi pembentukan aliansi NGO untuk kehidupan damai dalam kebergaman budaya dan transformasi serta fasilitasi masyarakat menuju pemberdayaan.


 

Penelitian TRADISI LISAN (Oral Tradition / OT)

Tradisi Lisan adalah landasan kesadaran diri dan otonomi komunitas ketika berinteraksi dengan lingkungan sehingga keberadaannya merupakan representasi proses terbentuknya kebudayaan.

ID menetapkan penelitian Tradisi Lisan Dayak sebagai program kegiatan utama pada tahun 1992. Penelitian Tradisi Lisan ini mengambil 4 Sub Suku Dayak sebagai sampelnya. Penelitian ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR). Hasil penelitian tradisi lisan Dayak ini telah diterbitkan dalam bentuk komik, bahan ajar untuk pelajaran Muatan Lokal di Sekolah dan buku Tradisi Lisan Dayak yang Tergusur dan Terlupakan pada tahun 2003.

Berbagai tradisi lisan yang didokumentasikan antara lain : cerita rakyat, upacara adat, permainan rakyat, lagu-lagu permainan anak-anak dan juga musik tradisional baik yang bersifat ritual maupun provan.

 

Penelitian PLANT GENETIC RESOURCES (PGR)

Keberadaan unsur hutan-tanah-air menjadi prasyarat bagi kehidupan budaya Dayak. Sumber daya alam ini begitu berharga dan penting keberadaannya karena segala kebutuhan yang diperlukan, dari makanan, bahan perumahan sampai obat-obatan terkandung di dalamnya secara alami. Oleh karenanya, hutan-tanah-air bagi orang Dayak memiliki nilai spiritual-cultural yang olehnya sebuah budaya yang utuh terbentuk dan berproses.

ID melakukan penelitian tentang keanekaragaman hayati (PGR) di Kalimantan Barat pada tahun 1993. Penelitian ini sendiri berlangsung sangat intensif selama 4 tahun dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama sedangkan ID hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Sebuah buku berjudul Kalimantan : Bumi yang Kaya Makanan diterbitkan pada tahun 2002 yang merangkum seluruh hasil penelitian tersebut. Melalui buku ini diharapkan muncul sebuah kesadaran baru tentang pentingnya keberadaan hutan bagi keberlangsungan hidup manusia, teristimewa keberlangsungan budaya Dayak.

 

Fasilitasi PENGAJARAN MUATAN LOKAL

Sekolah merupakan salah satu institusi yang menjadi alat marginalisasi Masyarakat Adat di Indonesia. Pendidikan formal yang dijalankan di Indonesia menumbulkan ekses berupa dominasi budaya luar terhadap Masyarakat Lokal. Sistem pendidikan yang diterapkan tidak berakar pada budaya lokal melainkan penuh doktrinasi akan keyakinan bahwa modernisasi adalah satu-satunya pilihan terbaik bagi kehidupan manusia di masa depan.

Institut Dayakologi menginisiatif kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat untuk memberikan alternatif di mana materi yang konstektual bisa dimasukkan dalam mata pelajaran muatan lokal , terutama di sekolah-sekolah yang mayoritas muridnya adalah generasi Dayak. Aktifitas ini mulai dilakukan pada tahun 1999 dengan pilot project di 8 Sekolah Dasar yang tersebar di Kalimantan Barat.

Beberapa muatan lokal yang diajarkan adalah : Adat Budaya, Seni Tradisi, Keterampilan untuk putra dan putri serta permainan Rakyat. Sedangkan tenaga pengajarnya adalah para ahli lokal. Muatan Lokal ini menunjukkan respon positif dari masyarakat.

 

ANPRI : Suara Multikultur untuk Perdamaian

Konflik etnik di Kalimantan Barat telah menjadi persoalan laten selama bertahun-tahun. Pandangan ID, damai bukanlah tujuan. AKan tetapi, setiap saat dalam hidup manusia ini membutuhkan rasa damai untuk mencapai segala yang dicita-citakan. Oleh sebab itu, damai harus dihayati sebagai proses tanpa henti dari kehidupan itu sendiri untuk keluhuran hidup manusia.

Atas dasar itu, pada tahun 2006, ID melanjutkan peran yang dirntis GPPK dengan mendirikan satu aliansi Ornop untuk kehidupan damai dan multikultur di Kalimantan yang dinamakan Aliansi NGO untuk Perdamaian dan Transformasi (ANPRI). ANPRI beranggotakan NGO di Kalimantan Barat serta berbagai pihak

yang basis keanggotaannya sesuai dengan keberagaman suku di Kalimantan Barat. Anggota harus senantiasa mengkampanyekan budaya damai dan kehidupan multikultur terutama melalui mitra strategisnya.

 

Penelitian ETNOLINGUISTIK

Bahasa merupakan benteng pertahanan terakhir sebuah budaya. Sebagai salah satu unsur budaya yang penting, bahasa sering kali dijadikan dasar identifikasi untuk menentukan identitas seseorang maupun satu komunitas.

Karakter bahasa begitu kompleks karena merepresentasikan emosi serta sistem nilai yang ada di lingkungan penuturnya. Tidak mengherankan jika kemudian muncul banyak varian dari akar bahasa yang sama.

Di samping serbuan bahasa lain, jumlah penutur merupakan faktor penting bagi tetap bertahannya bahasa. Jika penutur semakin sedikit maka lambat laun bahasa lokal akan punah. Jika bahasa punah, maka budaya, pengetahuan lokal dan sistem nilainya juga punah. Akibatnya masyarakat penutur kehilangan sejarah dan identitas mereka.

Karena penting unsur bahasa dalam budaya, ID melakukan penelitian etnolinguistik untuk bahasa Dayak di Kalimantan Barat sejak tahun 1997. Selain bertujuan untuk melihat keberagaman subsuku dan bahasa Dayak di Kalimantan Barat beserta penyebarannya menurut self identification, penelitian ini juga berguna bagi upaya advokasi ketika gejala menurunnya jumlah penutur bahasa Dayak akibat dominasi bahasa lain yang dianggap lebih modern dan stylist semakin parah.

Proses dan hasil penelitian etnolinguistik ini divisualisasikan dalam bentuk buku popular "Mozaik Dayak" serta peta digitizing etnolinguistik yang menggambarkan varian dan sub suku Dayak di Kalimantan Barat.

 

Fasilitasi MENUJU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADAT YANG MANDIRI

Suku Dayak Jalai dan Kendawangan yang berdiam di wilayah selatan Kabupaten Ketapang adalah potret kecil Dayak pada umumnya. Persoalan yang mendera kehidupan kedua komunitas ini tak ubahnya komunitas Dayak yang lain. Tekanan eksternal yang begitu membekas dalam perjalanan peradabannya yang kemudian menjadi salah satu kekhasannya dan perspektif sosio-historisnya adalah dimana kedua komunitas ini mengalami kolonialisme ganda pada masa lalu, yakni dari kekuasaan Kerajaan dan Kolonial Belanda. Sejarah interaksi sosial semacam ini sudah pasti membawa dampak yang berkepanjangan walaupun era sudah berganti.

Pada pertengahan tahun 2001, ID mulai melakukan program pemberdayaan secara lebih komprehensif dengan pendekatan yang integratif. Ada 4 program utama yang dijalankan secar integratif, yakni : Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan dengan mendukung dan memfasilitasi pengembangan gerakan CU Gemalaq Kemisiq, Revitalisasi Institusi dan Budaya Lokal, Pengelolaan Sumber Daya Alam (SPDA) berbasiskan kearifan lokal dan Pengendalian Hama Belalang.

Sedikit banyak program telah berkontribusi untuk memberikan solusi atas persoalan yang ada. Secara ekonomis, CUGK juga menjalankan fungsi sosialnya. Aturan-aturan pendukung untuk memanfaatkan produk layanannya dirancang agar tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya alam yang lestari serta nilai-nilai sosial yang berperspektif budaya lokal. Penerapan hukum adat sebagai salah satu alternatif penyelesaian persoalan dam pengelolaan CUGK merupakan bagian dari usaha revitalisasi institusi dan budaya lokal. Di bidang revitalisasi institusi dan budaya lokal, telah berhasil difasilitasi pendirian 2 sanggar : Sanggar Budaya Gemalaq Kemisiq dan Sanggar Patih Gerintang. Advokasi terhadap pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari usaha pengelolaan usaha SDA yang berkelanjutan juga menampakan hasilnya dengan adanya "keberanian" masyarakat kampung dalam mempertahankan hak mereka atas sumber daya alam, hutan-tanah-air dari ancaman perampasan pihak luar.